Postingan

Terima kasih, Kiata!

Lama tidak menulis disini membuat perasaanku layu Semua isyarat yang diterima mata batin memudar Tubuh menjadi kaku seraya seonggok kayu Dan otak hanya berputar pada tanggal gajian di kalendar Beginkah rasanya menjadi orang dewasa? Tidak ada cinta-cinta mendebarkan Perkara hati dibahas lagi lusa Pastikan perut selalu diberi makan Selamat sore Kiata, apa kabarmu hari ini? Kamu yang dulu sedang berdendang dibawah pohon rambutan atau sekadar membuang waktu yang entah untuk apa. Namun anehnya aku melihat banyak keceriaan diwajahmu. Wajah yang tidak pernah tertutup bedak sampai 0,5 cm pun. Padahal mau makan ayam penyet pun harus kamu pikir ribuan kali. Menghadirkan ingatanku tentang dirimu membuat diriku bergairah lagi. Tidak terasa sepanjang menulis aku masih senyum-senyum sendiri. Bukan karena aku tidak menikmati diriku hari ini. Hanya berterima kasih karena kamu sudah menjalani hidup dengan luar biasa. Dengan mimpi-mimpi yang tinggi. Dengan harapan yang terus membara. Dan semua proses ya...

Padamu Lagi

Entah mengapa kau selalu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi pada malam. Setelah berlarut-larut kita terperangkap ego. Setelah carut-marut amarah kita membelenting. Dengan sederhananya malam membawa kita pada sunyi yang sama lagi. Menyalakan nuansa sendu dan seru pada satu ketukan hati. Aku yang hampir hilang ingatan ini, mencoba kembali berbaring di pundak yang sama. Mencoba kembali teriak di telinga yang sama. Meski sempat tidak ku dengar suaramu. Meski sempat tidak ku rindukan hadirmu. Tapi malam selalu membuatku jatuh cinta padamu

AKU dan Keakuanku

Membahas tentang buku yang ku suka, semalam tadi, buatku bungkam seribu kata. Satu ketika otak ku membeku, seakan kembali pada 6,5 tahun yang lalu. Gadis setengah polos, dengan rambut ikal dan seragam putih abu-abunya. Begitu lengkap dan trendy dipadukan sepatu converse yang tidak begitu hitam itu. Saat itu twitter sedang booming , dengan segala cuitanku yang tak ku sangka malah jadi bakat terpendamku. Aku bukan artis timeline saat itu, lebih spesifik dia sebut aku atlet timeline . "Hahaha, ada-ada saja kak!" Ungkap ku. Sosok laki-laki, mahasiswa katanya,  atau masih siswa? Entah, aku tidak terlalu mengenalnya, mengubah hidupku dari gadis setengah polos, jadi gadis penuh ambisi. Pertemuan kami panjang, dan selalu punya cerita. Dia bercerita tentang buku-buku miliknya, teman-teman sastrawan, gunung-gunung yang dia daki, film-film yang menarik, hingga lagu-lagu folk yang tak jarang diperdengarkan padaku. Hari itu terlalu melelahkan bagi kami untuk kelilingi Jaka...

Ada Apa ?

Siang ini matahari sedang panas-panasnya. Namun tidak juga aku. Matahatiku sendu Seakan awan mendung menggantung. Aku coba melebur pada pohon dan udara. Berharap fotosintesisnya mampu mengembang biakan hati yang kelabu. Ini aneh, tapi nyata. Setiap ranting yang terhembus justru melemahkanku. Jauh melemah dibanding hati harus kehilangan. Tanganku gemetar, lututku melunglai. Ada apa, hari? Pikirku sudah berlarian kemana-mana. Dan entah, aku tidak bisa menariknya lagi.

Dua Manusia Gila

Kita dua manusia gila yang tidak bisa jatuh cinta. Meramu candu dalam sebotol air mineral. Aku mencintai dengan kelemahan hatiku. Dan kamu mencintai dengan kekuatan akal pikirmu. Kita pernah terjatuh, dan bangkit pada suatu waktu. Namun entah, cinta masih berjalan seperti begitu. Sekali aku membuatmu terjatuh. Kamu masih berdiri di situ. Kemudian aku membuatmu terjatuh lagi. Seakan tidak gentar, kamu semakin tegak berdiri. Hingga aku membuatmu terjatuh lagi. Kamu berpaling dan tidak kembali lagi. Seakan tanpa ampun kamu memalingkan pandanganmu. Seakan tanpa ampun kamu tidak biarkan ku mendekat ke arahmu. Sayang, kita berdua memang manusia yang tidak pantas jatuh cinta. Tanpa prasangka, hari ini kita tertawa seakan kemarin tidak pernah ada air mata. Seperti jemari-jemari kekarmu ramah merangkulku. Seperti jemari-jemari kekarmu erat menggenggam tanganku. Dan hari ini kita tertawa seakan kemarin tidak pernah saling terluka. Menafsirkan malam dengan celoteh sederha...

Sesederhana Cinta Dulu

Tiba-tiba aku teringat tentang cinta di dua tahun lalu. Begitu ceria, dan bersahaja. Begitu sederhana, dan bahagia. Menyorakan hal-hal kecil adalah kebiasaan kita. Menertawakan hal-hal rumit adalah hobby kita. Kita tidak pernah benar-benar rapuh. Kita tidak pernah benar-benar pudar. Seakan semesta bersinergi dengan kita. Dia membakar api asmara sampai ke jiwa. Tanah, batu, ranting dan daun menjadi sahabat terbaik kita. Pohon-pohon tak berjarak itu pernah menjadi tempat kita bersandar. Sedangkan rantingnya menjadi bantal paling nikmat yang kita rebahi. Mungkin kamu ingat. Mungkin kita ingat. Mungkin mereka ingat. Bahwa kita pernah menjadi bahagia dengan hal-hal sederhana. Bahwa kita pernah benar-benar terikat pada kesederhanaan cinta.

Salam Perpisahan

Sore ini hujan, dan rinduku masih sama dengan rindu-rindu hari kemarin. Sore ini hujan, dan rinduku menjadi semakin rumit karenanya. Seperti salam perpisahan yang menjadi ultimatum keras bagiku. Kita serupa, tapi tidak sama. Kita sama tapi tidak serupa. Entah kalimat mana yang lebih tepat menggambarkan kita. Ku harap kau pahamiku lebih dari yang ku harapkan. Sebab rindu ini menjadi semakin berat karenanya. Sebab rindu ini menjadikannya lebih kejam dan menyakitkan dibanding salam perpisahan.